pagi ini aku kembali di sibukkan dengan jadwal-jadwal yang aku rencanakan sendiri, namun aku melakukannya dengan penuh kesadaran bahwainilah duniaku dan aku merasa nyaman berada dalam zona ini. Hari senin seperti biasa, aku akan memulai jadwalku dari jam 07.00 WIB megikuti upacara bendera mulai dari jam 7 hingga pukul 8. Kemudian mengikuti pelajaran dikelas hingga pkul 14.00 wib. Hemmmmm setengan hari lebih aku melewatkan hari-hariku disekolah. Terassa jenuh memang, namun ketika berada di perpustakaan bersama laptopku saat jam istirahat terasa sangat menyenangkan. Yahhh…. Laptop adalah part of my life…. Tanpanya aku akan kesusahan dalam mengekspresikan apa yang ada dipikiranku dalam bentuk tulisan yang aku susun menjaddi sebuah cerita menarik. Menuruhku.. hehehee
setibanya dirumah biasanya aku langsung mengerjakan PR ku dulu sebelum bergelut dengan laptop kesayanganku. Kali ini aku akan menulis sebuah cerita tentang ibuku. Wanita yang paling istimewa dan sempurna bagiku. Hari inni aku mendapakan insspirasi yang sangat banyak dan menarik, makanya sampai lrut malam aku belum saja tidur. Pukul 00.30 mataku terasa sangat berat, aku rasa mataku sudaah cukup lelah meskipun otakku masih oke untuk mengarang.
Kringggggggggggg………………..kringggggggggggg….kringggggggg
Kringgggggg…………… brakkkkkkkkkkkkkkk
“Aduhhhh sakira, apa-apaan kaamu ini. Sudah siang begini belum bangun, ini lagi jam di bangunin sama jam malah jamnya dibuang sembarangan” kata ibu sakira sambil mengambil weker yang sudah tergeletak didekat pintu.
“ehhhmmmmmmmmmmmmmm…… maaf ma… semalem sakira tidur larut malam, sakira mengerjakan sesuatu” kata sakia sambil mencoba untuk bangun dari tidurnya.
“ngerjain apa???? Semalem pas makan malam kan saakira udah bilang sama mama kalau sakira sudah mengerjakan tugas” kataibbu sakirasemabari membantu sakira untuk berdiri dan lekas mandi.
Tak menjawab perkataan mama, aku pun bergegass berjalan menuju kamar mandi. Hari ini ada pelajaran matematika, gurunya galak banget kalo telat pasti nggak boleh masuk deh.
Tepat pukul 07.15 wib. Aku masih berlari dari halte dekat sekolah, aku yakin jam segini pasti gerbang sekolah sudah ditutup. Benarkan pa kata ku,gerbang sudah ditutup, tapi nggak usah khawatir.. satpam ssekolah kan teman dekat ayahku. Pasti dia mau membantuku lagi.
“pak jon, pak jon !!???” kata ku sambil mengendap ngendap
Terlihat pak jon mulai mencari arah suara ku berasal. “ oalahhhh neng sakira… terlambat lagi neng? Ya sudah ayo cepat masuk. “
Tak perlu waktu lama… aku pun langsung lari kearah kelasku sambil mengucapkan terimakassih kepada pak jono. Wowww.. tak ku sangka ini hari keberuntunganku, di kelas terdengar gaduh. Ternyata guru matematika ku absent dan kami semua hanya mendapatkan PR. Kegaduhan dikelas membuatku merasa tak nyaman,. Aku pun memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan dan melanjutkan short story yang sedangaku rilis akhir akhir ini. Hahaha rilis? Gaya banget bahassa gue. 1 jam kemudian, yahhhh selesai juga cerpenku. Nannti sepulang sekolah akan aku tunjukkan cerpen ini pada ibuku. Senangnya hatiku…. Sebentar lagi ibuku akan membaca cerita indahku tentang dirinya. Ning nong ning nonggg…. Terdengar bunyi bel istirahat selesai. Saatnya untuk masuk kelass dan belajar lagi.
Saat aku berjalan menuju kelas, perhatianku tertuju pada mading yang berada di arah jam satu dari arahku. Penasaran ada berita apa minggu ini, aku pun bergegas meuju mading sebelum guru ku masuk kelas. Kebetulan mading itu berada di samping kelass ku, jadi aku tak perlu khawatir akan tertinggal pelajaran. Oh My God ?! is it true? Kata ku terkejut. “ yes it is right” terdengar suara wanita disampingku. Setelah aku menengoknya, ohhh ternya dia inge teman sekelassku yang tergabung dalam OSIS di sekolahku. “ sakira, apakah kau berminat dengan lomba cerpen ini? “ tanya inge pada ku “ iyaaa.. aku sangat berminat. Tapi nge apa cerpen tentang ibu bisa masuk dalam kategori ini?” “ yaaa tentu sayangg… kategorinya aja udah jelas banget “ the best one in my life” “ wowww it is wonderful” gimana cara nya aku ikut loma ini inge?” “ gampang kok, kamu tinggal kasih hardcopy sama softcopy nya cerpen kamu terus kamu isi formulir pendaftarannya, ntar di kelas aku kasih formulirnya.” “Oke !!! thanks ya nge…” kami pun bergegas masuk kelas karena guru fisika kami sudah berjalan menuju kelas.
Setelah pulang sekolah. Sebelum mengisi formulirnya sakira tiba-tiba hanyut dalam lamunannya. Entah apa yang sedang adda dalam pikirannya. Tiba-tiba dia meninggalkan formulir itu dan pergi ke percetakan untuk mencetak cerpen yang telah dibuatnya. Setelah semua persyaratan lengkap, tinggal formulirnya saja, sakira bergegas menuju rumah inge. Sesampainya disana ia memberikan persyaratan yang telah ia bawa kepada inge. “ sakirra, mana formulirnya?” “ inge, lomba ini apakah hanya akan terjadi Cuma satu kali?” “ ohh jelas tidak sakira, lomba ini diadakan setiap akhir semester.” “ benarkah?” spontan aku merasa sangat lega. “ ada apa? Kenapa kamu tidak menyertakan formulirnya sekalian?” “ maaf..” itu kata kata terakhir yang aku ucapkan pada inge sebelum aku meninggalkannya dengan berkas-berkas cerpenku berserta sepucuk surat yang aku tinggalkan dalam genggaman tangannya.
Keesokan hari sakira mendatangiku dan menanyakan tentang surat yang aku sertakan dalam cerpenku semalam untuknya. “sakira, aku tak mengerti dengan apa yang sedang ada dipiikiranmu ! bagaimana bisa kau memintaku untuk mengatasnamakan diriku sebagai pengarang cerpen ini sementara aku sendiri tidak pernah merassa telah membuatnya. Ada apa dengan mu?” aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Dalam pikiranku hanya ada rasa takut jika ada yang mendengar perkataan inge. Seketika aku pun langsung menarik tangan inge ke sudut kelas. “ inge, please . . mengertilah aku. Apa kurang cukup alassanku semalam?” “ sakira ! ayo sadarlah, itu semua hanyalah ketaktan yang konyol. Semalam aku telah membaca cerpenmmu dank au tau apa???? Aku menangis terharu membaca cerpen yang telah kau buat itu.” Aku benar-benar terpojok. Apakah salah jika aku dihantui oleh rasa takut menanggung malu jika kalah. Apakah salah jika aku takut kalau cerpen yang akan aku persembahkan untuk ibuku justru akan membuat malu ibuku jika cerpen anaknya kalah??? Apakah ini justru sebuah pemikiran dangkal yang bodh??? Ohhh Tuhan apa yang harus aku lakukan? Aku menginginkan cerpenku ikut lomba tapi tanpa ada namaku. Tapa ku sadari mata ku telah meneteskan air mata. Aku sungguh hanyut dalam persoalan ini. Inge Nampak bingung, telihat jelas dimata nya bahwa dia bingung namun kasihan padaku. “ sakira, sudah jangan menangis. Aku akan membantumu !” sontak aku terjaga dari keadaanku sebelumnya. “ benarkah???” (to be continue in merintalani.bblogspot.com)
0 komentar:
Posting Komentar